Kali ini saya akan berikan sebuah Kitab Karangan Al Maghfurlah Syaikh Al Maliki (ulama' Aswaja yang getol menentang Wahabi-Salafi). silakan didownload disini
Kali saya akan berikan link download untuk terjemah TAFSIR JALALAIN karya Syaikh Jalaludin Suyuti dan Syaikh Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al Mahally. Silakan klik disini. Semoga Bermanfaat.
Banyak para fundamentalis yang menentang adanya sebuah perkumpulan aliran tarekat. hadist mutsalsal dibawah mungkin bisa dijadikan pencerahan akan bagaimana mungkin sebuah sunnah Rasul dianggap sebagai hal tercela bagi mereka.
Sholat dalam segi bahasa disebut "doa". Secara istilah banyak yang mendefinisikan sebagai serangkaian ibadah yang diawali dengan takbiratul ihram dan akhiri dengan salam. Namun tahukah kita apa hakekat sholat yang sebenarnya. Secara Islam atau lebih spesifiknya fiqhiyyah, sholat (sholat 5 waktu) dihukumi wajib ain/fardhu ain. Kalau sholat dimaknai sebuah kewajiban personal bisa jadi ketika orang sudah menunaikan sholat (lengkap dengan syarat dan rukun sholat) maka gugurlah kewajiban itu.
Sebagian Ulama Tasawuf berkata, Semua Makhluk/hamba itu akan menerima dan
menggunakan rezekinya. Namun kemudian hati mereka akan menjadi berbeda-beda
dalam menyaksikan datangnya rezeki, akan berbeda-beda respon mereka ketika
rezeki itu ia terima. Paling tidak bisa dikategorikan dalam 4 bentuk penyaksian,
Athoma' (Indonesia: tamak) adalah memposisikan hati menginginkan apapun kepada selain Allah SWT. Sedangkan kebalikan dari Athoma' adalah Ar Roja' yaitu hati menginginkan apapun kepada Allah SWT.
Imam Abu seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga seorang Mursyid Thariqah Sufi.
Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata, “Aku mengambil Thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al-Karkhy, dan beliau mengambil dari Dawud ath-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.
Tarekat Alawiyyah berbeda
dengan tarekat sufi lain pada umumnya. Perbedaan itu, misalnya, terletak dari
praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani) dan
kezuhudan, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid
serta dzikir ringan.
sebenarnya penafsiran ayat diatas yang
lebih relevan adalah: "Allah tidak akan menghilangkan
merubah/mencabut/merusak /menodai nikmat yang diperoleh sebuah kaum dari Allah
swt, sampai kaum itu sendiri menghilangkan/merubah/mencabut/merusak/menodainya
nikmat tersebut"
Dengan semangat
idul Fitri marilah kita menjaga dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah
SWT. Semoga dengan taqwa hati, pikiran dan perilaku kita selalu terjaga dalam
Iman kepada Allah SWT, Amin.
Kita sering berkata: “Kalau
tidak karena aku, maka tidak akan berhasil...”. Ungkapan ini sangat
sederhana tapi ia sangat berpengaruh besar dalam kehidupan terutama dalam
rangka memaknai apa hakekat diri eksistensi kita muncul dan hidup dipermukaan
bumi ini.
Iman beda dengan ilmu. Ilmu itu titik tolaknya akal, iman itu titik tolaknya hati. Logika akal itu bisa berbeda dengan logika iman. Bisa jadi orang yang ilmunya dalam tetapi imannya dangkal atau tidak ada. Bisa jadi orang yang imannya kuat tetapi pengetahuannya dangkal.
Allah itu Esa pada ZatNya, SifatNya, perbuatanNya (saya menyebutNya Esa untuk menghindari redaksi tunggal atau bilangan satu, dua dan seterusnya. karena itu adalah ciri khas yang melekat pada makhluk [makhluk bisa diartikan dengan “maa siwa Allah” [segala bentuk selain Allah], sedangkan Allah tidak bisa diserupakan dengan makhluk pada bentuk apapun).
Allah Esa Dalam ZatNya
Esa Zat Allah itu tidak seperti makhluk (makan, minum, mempunyai keturunan dll), jd seperti apa? ALLAH tdk seperti apa-apa, yang tidak seperti apa-apa itulah Allah..karena jika Allah seperti apa dan siapa,maka Allah mempunya kelemahan menjadi TUHAN. Ketika Tuhan mempunyai kelemahan apakah Dia pantas disembah???Terus buat apa lagi ada pertanyaan "Seperti apa Allah itu..?"
Zat Allah tidak bisa dtemukan dengan akal manusia. Kalau pun manusia bisa sedikit mengerti Zat Allah H itu krn manusia dianugrahkan oleh Allah berupa sedikit penglihatan mata batin (disebut dengan 'AINUL BASHIROH) itupun Zat Allah yang tidak secara utuh, karena akal manusia diciptakan bukan untuk memikirkan Zat Allah, melainkan memikirkan kejadian alam raya ini.
'ANUL BASHIRAH itu digunakan untuk melihat Sifat-sifat Allah yang TAMPAK (maujudiy). Sifat Allah yang maujudiy bisa jadi bisa ia temukan dalam bentuk kebesaran alam raya ini beserta isi dan segala tingkah lakunya atau yang lainnya,maka orang yang pintar dan benar pasti ia akan menggunakan semua potensi yang ia miliki untuk mampu menemukan jawaban siapa yang menciptakan ini semua. Allah Maha Agung sehingga mampu mengendalikan semua hal-hal yang rumit dari sekecilnya sampai yang sebesar-besarnya. Tidak ada Zat yang Maha Agung kecuali menciptakan sesuatu yang agung pula. Dia bukan Zat yang main-main, atau sedang bermain-main, Dia Zat yang pantas disembah, karena kita tidak akan menemukan sedikit kekurangan pun pada Allah.
Allah Esa Dalam Sifat Dan PerbuatanNya
Allah mempunyai sifat sebanyak 41 buah, dengan rincian sebagai berikut: a. 20 Sifat wajib Allah b. 20 Sifat mustahil Allah (sifat yang tidak mungkin melekat pada Allah dan menjadi lawan dari sifat wajib Allah) c. 1 Sifat jaiz Allah (sifat yang boleh jadi Allah lakukan dan boleh jadi tidak Allah lakukan)
Dari 20 sifat wajib bagi Allah itu ada sifat Allah yang persifatan dengan makhluk seperti sifat wajib, diantaranya “Allah itu berfirman” (saya tidak menggunakam redaksi berbicara karena kata-kata ‘berbicara’ merupakan karekteristik milik makhluk). Perlu diingat bahwa firman Allah itu tidak sama dengan makhluk yang berbicara menggunakan mulut dan mengeluarkan suara, karena lagi-lagi Allah disucikan dari kemiripan dengan makhlukNya. Jadi seperti apa firman Allah itu? Jawabnya adalah “tidak seperti apa-apa”. Manusia hanya diberikan kemampuan akal, hati untuk memikirkan dan merasakan kebenaran firman Allah lewat kejadian alam,isi dan perilakunya (ini disebut dengan firman/ayat KAUNIYAH). Contohnya: ketika terjadi korupsi besar-besaran di suatu wilayah, maka tidak jarang Allah menjatuhkan siksa sekaligus berupa bencana alam dsb. Itu adalah firman Allah yang bersifat KAUNIYAH, supaya manusia berfikir dan merasakannya dengan harapan manusia mau merubah perilaku yang merugikan orang lain tersebut.
Disamping itu ada firman Allah yang tertulis dalam kitab suci AL-QUR’AN (selanjutnya disebut dengan ayat QAULIYAH) dan sudah dijamin kemurnian dan kebenarannya sejak zaman diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sampai sekarang.
Jadi, sifat wajib bagi Allah itu bergandengan dengan sifat mustahilNya. Dalam arti sifat Wajib adalah sifat yang absolut milik Allah, sedangkan sifat mustahil adalah bukti keabsolutannya tersebut.
Sekarang yang ketiga adalah sifat Jaiz bagi Allah. Sifat jaiz bisa diartikan sebagai sifat yang menjadi hak preogratif Allah dan ini bergandengan dengan Perbuatan Allah, artinya Allah itu berhak memberikan, menjadikan, membuat sesuatu dst kepada makhlukNya dan juga berhak untuk tidak mekakukannya. Contoh, jika kita kaitkan dengan dunia materi; Si A dan Si B sama-sama berusaha mencari harta,tapi hasilnya terkadang kenapa si A diberikan kekayaan yang melimpah sedangkan si B hidup dalam kemiskinan?Jawabnya karena Allah mempunyai hak preogratif, Allah mempunyai sifat jaizNya. Jika orang mengerti sifat jaiz Allah maka tidak ada lagi orang yang mengeluh dan merasa menderita di dunia ini. Tapi ingat! Berusaha, bekerja tetap wajib dilakukan karena Tuhan menjamin rezeki setiap manusia bukan dalam arti mempersembahkan sesuatu yang sudah jadi, siap dipakai, ia butuh diusahakan dan diolah. Maksud Allah menjamin rezeki manusia itu adalah Allah menjamin adanya LAHAN dan SEBAB untuk mendapatkan rezeki itu. Hamparan alam raya ini adalah ‘lahan’ rezeki jaminan Allah. Manusia diberikan dorongan rasa lapar, dorongan memperoleh keindahan, dorongan meraih kebahagiaan, itu semua adalah ‘sebab’ jaminan rezeki Allah. Tentang hasil dari usaha tersebut apakah ia sukses atau tidak itu bukan urusan manusia, itu urusan Allah dengan Sifat JaizNya.
Dan harus diingat bahwa rezeki itu ada rezeki rohani (kepuasan batin, kepintaran, kebahagiaan dll) ada rezeki jasmani (terpenuhi kebutuhan jasmani dll).
Hikmah yang bisa diambil adalah umat Islam hendaknya selalu melestarikan sikap positive thinking kepada Allah, jika manusia itu sudah berusaha maksimal dan hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkannya, maka yakinlah Allah akan memilihkan yang terbaik buat kita diakherat nanti tidak didunia ini. Mungkin saja ketika ketika manusia diberikan harta yang melimpah didunia ia akan egois, tidak adil, tamak dan tidak mau berbagi kepada sesama (padahal Allah sudah menyerukan kepada manusia untuk saling berbagi dengan sesama), maka yang terbaik baginya adalah menjadi miskin. Inilah inti dari apa yang disebut dalam bahasa agama dengan QONAAH. Manusia tetap wajib berusaha dan Allah yang mengatur rezeki kita, karena hanya Allah yang Maha Adil dalam mengatur rezeki manusia, sedangkan manusia tidak akan adil. Buktinya, masih banyak orang Kaya yang membiarkan manusia disampingnya hidup dalam kemiskinan.
Karena sifat jaiz Allah itu pula lah, maka dalam Islam diharapkan tertanam kepada jiwa umatnya untuk mempunyai sikap khauf (takut) dan raja’ (berharap-harap). Takut dalam arti takut kalau nikmat di dunia yang ia rasakan ini akan dicabut oleh Allah, berharap-harap artinya ia berharap semoga Allah akan mengekalkan nikmat itu sampai akhir hayatnya dalam kondisi khusnul khatimah.
Sekian, semoga ada manfaatnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
*(berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, mohon di benarkan jika salah)